Kelapa sawit

Buat yang belum tau Indonesia adalah negara dengan tingkat produksi kelapa sawit tertinggi didunia hingga mencapai 33 juta ton per tahun. Aku ulangi 33 juta ton, itu 33 juta ton semuanya minyak kelapa sawit, iya kelapa sawit bukan minyak muka anak alay kalau kena panas.

Ngebahas kelapa sawit kita gabisa lepas dari isu negatif tentang kerusakan lingkungan, akibat produksi kelapa sawit akhirnya banyak lahan yang dialihkan fungsikan yang dulunya hutan homogen sekarang cuma jadi perkebunan kelapa sawit, solusi yang dunia tawarkan adalah dengan mengganti minyak kelapa sawit dengan biji bunga matahari, kalian tau biji bunga matahari? Iya, kuaci. Kebayang gasih kalau misalkan mereka berdua nih kelapa sawit sama kuaci ganti peran, kelapa sawit jadi kuaci, kuaci jadi kelapa sawit. Akan ada saatnya kalian ngegoreng gorengan pake minyak kuaci, ngeronda minum kopi sambil bukain biji kelapa sawit.

Hamtaro, tokoh kartun jepang yang meranin hamster, tau kan? Resign dia, kalau tau akhirnya dia harus gigit-gigit kelapa sawit bukannya kuaci. Udah lucu-lucu yang digigit kelapa sawit, apaan.

Tapi banyak juga yang bilang kalau misalkan minyak kelapa sawit membantu perekonomian negara dengan eksport keluar negeri. Jawabanku adalah, enggak juga. Kalau kalian baca berita, kalian akan tau kalau uni eropa menyetop import dari Indonesia karena alasan isu lingkungan tadi. Tapikan masih ada Amerika, Asia dll. Iya, tapi konon katanya juga, pelaku usaha dibidang kelapa tingkat kesadaran membayar pajaknya rendah, pemerintah yang seharusnya mungutin pajaknya, gak berani. Aneh kan, perusahaan yang nyewa lahan, pemerintah yang punya lahan, inikan gak masuk akal, emang kalian pernah liat ada anak kostan lebih seram dari bapak kostan? Gaada.

Nih saran buat pemerintah, kalau memang gaada lagi yang berani munguti pajak, rekrut aja bapak kosanku, pak haji namanya, berani orang itu ngelawa kalau gak diludahi mulut orang itu.

Banyak yang belum tau, aku itu tinggal di desa yang di kelilingi perkebunan kelapa sawit. Tinggal di daerah perkebunan kelapa sawit itu membosankan, karena sejauh mata memandang yang dipandang yha pohon kelapa sawit. Keluar tumah yang diliat kelapa sawit, ke belakang rumah yang diliat kelapa sawit, aku takutnya keseringan liat kelapa sawit tiba-tiba ngeliat tumbuhan lain aku jadi norak. Ngeliat kangkung berasa liat artis, liat genjer jadi pengen minta foto, ngeliat toge jadi pengen megang.

Toge yang tumbuhan lho ya bukan yang singkatan. Kalau yang singkatan beda lagi, engga dipegang, tapi diukur diameternya.

Orang Indonesiakan males-males ya, pengennya yang instant dan gak ribet gitu. Di desa, sangkin kita seringnya menggunakan kalimat buah kelapa sawit, buah kelapa sawit, sama penduduk setempat disingkat jadi “buah” aja. Jadi misalkan ada percakapan.

‘Eh mau kemana?’

‘Mau manen buah’

Kalimat ‘Mau manen buah’ artinya adalah dia mau panen buah kelapa sawit. Padahal menurutku, kelapa sawit itu enggak buah-buah banget. karena dalam pikiranku semua buah bisa dijadikan manisan. Kelapa sawit, dijadikan manisan? Mengkilat bibir kelen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s