Bahkan ketika satu di antara 86.400 detik dalam hari ku tak melihat mu aku tetap tabah. Karena aku merasa jika perasaanku tidak terbatas maka aku tak perlu risau jika tak terbalas. Prihal apakah kau ingin membalas itu menjadi urusanmu, di titik itu urusanku telah selesai.

Jika kau pikir aku tak pernah menghubungi mu lebih dulu adalah sebuah sikap aku tak acuh padamu itu adalah salah, aku menyukai lebih dari apapun, namun dari detik-detik jarum jam yang bergerak aku hanya ingin berlatih seandainya kau memang bukanlah yang menjadi sumber kelegaan dissat aku haus akan kata sayang maka aku akan siap.

Renggangnya hubungan kita tak pernah ku dasari dengan kesengajaan, jika ini adalah skenario tuhan untuk menjauhkan kita ingin rasanya aku mengambil naskah miliknya lalu mengubahnya. Tapi tidak, tak perlu aku selebay itu, jika kaupun tak mencintaiku, aku hanya membuang tenaga ku. Aku merenung menitip pikir, aku terlanjur jatuh dalam rasa ku pada mu, sulit untuk ku bangkit, adakah yang bisa mengalahkan semua ini? Rasanya aneh, aku ingin melupakanmu sekaligus mengingatmu dengan amat. Sakit tidak terarah lalu mengendap diam-diam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s