Kamu diam mulu buat aku bingung tau.

Bilang saja semuanya, aku mencintai mu jika ingin kau balas maka katakan jika tidak maka katakan jugalah seperti adanya.

Jangan takut untuk jujur, jangan takut untuk membuat ku sakit, karena aku sudah memutuskan untuk mencintai memang harus butuh pengorbanan. Aku tuh bingung harus apa, di sisi sini aku ingin memiliki mu mencintai mu dengan utuh dan jelas bukan digantung ataupun samar tidak jelas tapi di sisi sana kau malah berkode-kode penuh teka-teki.

Apakah akan selamanya seperti ini, aku terus mencintai mu diam-diam, terlihat bahagia namun tersakiti? Sampai kapan? Sampai aku terlalu menyerah karena sudah tidak bisa mengganti sedih mu dengan tawa atau sampai ada pria lain yang secara eksplisit mengatakan bahwa diri mu telah dimilikinya?
Tolong katakan sejujurnya, ambigu mu membuatku seperti berada di persimpangan antara harus maju atau sadar diri bahwa aku tak mampu.

Seperti hari ini, aku bertanya bagaimana perasaan mu kepada ku, kau jawab kau masih membutuhkan waktu. Aku hanya bisa menerima menyuruput teh tawar cap bunga mawar yang ada di depan ku.

‘Yuk kita jalan lagi.’ tawarku, perjalanan pencarian buku milik mu belum juga usai. Permintaan mu tergolong aneh, mencari buku yang sudah tidak dicetak lagi. katamu sebuah buku bukan dilihat dari seberapa lama dia dicetak namun isi yang ingin disampaikan.

‘Oh begitu.’ Gumam ku, lantas jika seperti itu apakah kau harus ku doakan kepada tuhan agar menjadikan mu sebuah buku beberapa menit saja agar ku bacai engkau hingga halaman terakhir agar aku tau pesan apa yang ingin kau sampaikan kepada ku.

Langit semakin gelap menandakan pencarian kita harus dihentikan, di jaman media sosial ini menemukan penjaja buku adalah perkara sulit semuanya tergantikan yang lebih instan dan mudah. Tanpa kutawari kalimat itu akhirnya muncul, “Sudah deh, ayo kita pulang.”
5/5/2019


Kelly’s Personal Construct Theory
Psikolog Amerika George A. Kelly (1905-1967) mengembangkan teori kepribadian konstruk personal (personal construct theory of personality) yang menekankan cara individu menafsirkan atau mengurai kejadian dan mengembangkan titik pandang sehingga menjadikan tiap orang tanpa sadar mengambil peran sebagai “ilmuwan” dengan mengamati kejadian, merumuskan konsep untuk mengorganisasikan fenomena, dan berusaha untuk meramalkan kejadian di masa depan.

Dalam kejadian seorang kawan ini, dia adalah pria yang mencintai seorang perempuan ambigu beribu kata namun bisu, beberapa kali dia nyatakan perasaannya namun sang perempuan berdiplomasi, berkelit, tak tau sang pria merasa sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s